Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jaringan Otot Lurik

Jaringan Otot Lurik
credit:instagram@bio_sanepa

Jaringan otot dibentuk dari sel-sel otot yang berfungsi untuk menggerakkan tubuh. Otot dapat berkontraksi berkat keberadaan miofibril atau serabut intraseluler yang kontraktil. 

Pada dasarnya jaringan otot dibedakan atas tiga kategori, yaitu jaringan otot jantung, jaringan otot polos, dan jaringan otot lurik. Ketiga jenis otot ini dimiliki oleh golongan vertebrata.

Bentuk sel otot biasanya memanjang, dikenal juga sebagai serabut otot atau serat otot. Sel otot ini terdiri dari bagian-bagian, yaitu sarkomer (membran sel), sarkoplasma yang merupakan sitoplasma sel, retikulum sarkoplasma adalah sebutan untuk retikulum endoplasma nya, dan sarkosoma yang merupakan mitokondria dari sel.

Sesuai namanya, jaringan otot jantung hanya berada jantung, tepatnya di lapisan tengah dinding jantung. Fungsi dari jaringan otot ini adalah membuat kontraksi pada jantung, sehingga darah dapat terpompa keluar.

Jika dilihat di bawah mikroskop, jaringan otot polos tampak tidak bergaris-garis atau polos. Maka dari itulah disebut otot polos. Penampakan yang polos ini karena otot tersebut memiliki serabut yang homogen.

Jaringan otot polos ini dapat bekerja secara bawah sadar karena bekerja di bawah perintah saraf otonom. Sama halnya dengan otot jantung, reaksi otot polos ini lambat jika dirangsang. Otot ini ada di sistem pencernaan, sistem pernafasan dan pembuluh darah.

Jaringan otot yang bekerja atas sadar kita adalah jaringan otot lurik.  Disebut demikian karena otot ini memiliki penampakan yang belang-belang atau memiliki garis terang dan gelap yang berselang-seling vertikal terhadap otot jika dilihat menggunakan mikroskop. 

Sebutan lain dari jaringan otot lurik ini adalah otot bergaris melintang. Berbeda dengan dua jaringan otot lainya, maka otot lurik bereaksi dengan cepat jika menerima rangsangan.

Jaringan otot ini disebut juga jaringan otot rangka karena melekat pada tulang belulang dalam bentuk sekumpulan serat kolagen yang dikenal sebagai tendon. Karena memang fungsi dari otot ini adalah menggerakkan tulang tempatnya melekat dan untuk melindungi kerangka tersebut dari benturan.

Mari kita ulas lebih rinci mengenai jaringan otot rangka berikut ini.

Jaringan otot rangka bekerja di bawah pengendalian sistem saraf somatik, atau dikendalikan secara sadar. Jaringan otot rangka terdiri dari komponen-komponen yang dikenal sebagai miosit atau sel otot, dalam bahasa sehari-hari sering juga disebut sebagai serat-serat otot atau serabut otot. Miosit ini dibentuk dari hasil fusi atau penggabungan dari mioblas, proses tersebut disebut oogenesis.

Mioblas sendiri adalah jenis sel embrionik pendahulu yang memberikan perkembangan pada suatu sel otot. Sel-sel dengan banyak nukleus berbentuk silinder panjang ini disebut juga serat otot atau mio fiber.

Serat otot kemudian akan terbentuk dari miofibril. Miofibril ini terbentuk dari aktin dan filamen miosin. Struktur halus miofibril tampak seperti benang-benang panjang yang memiliki garis tengah 1 hingga 3 mikro meter jika dilihat menggunakan mikroskop. 

Miofilamen ini terdiri dari beberapa macam ukuran, yaitu:

1. Filamen tebal yang memiliki diameter kurang lebih 12 hingga 15 nano meter dengan panjang 1,5 mikrometer. Filamen yang mengandung miosin ini terletak di tengah sarkomer dan membentuk pita A

2. Filamen tipis dengan diameter 5 nano meter dan panjang kurang lebih 1 mikro meter. Filamen yang mengandung aktin ini terikat di kedua garis

3. Filamen sedang atau menengah memiliki diameter sekitar 10 nanometer, filamen ini membentuk suatu jaring-jaring luas

4. Filamen transversal memiliki bentuk berkas halus yang menghubungkan beberapa miofibril yang saling berdekatan. Filamen ini berjalan di antara garis-garis M dan garis-garis 2.

Ada dua cara utama untuk mengelompokkan serabut-serabut otot. Pertama dari jenis keberadaan miosin yaitu cepat atau lambat. Dan kedua adalah tingkat fosforilasi oksidatif yang dialami oleh serabut otot tersebut. Dengan demikian jaringan otot lurik dapat dibagi menjadi dua kategori besar, yaitu Tipe I dan Tipe II.

Pada Tipe I, serabut tampak merah karena keberadaan oksigen yang terikat dengan mioglobin protein. Serabut-serabut ini disesuaikan untuk daya tahan dan tidak mudah lelah karena serabut tersebut menggunakan metabolisme oksidatif untuk memicu ATP. Ukuran dari neuron motor serabut ini kecil.

Fungsi dari tipe ini digunakan untuk kegiatan aerobik (contohnya lari jarak jauh) dengan durasi penggunakan berjam-jam. Tetapi daya yang dihasilkan rendah. Densitas dari mitokondria sangat tinggi dan densitas kapiler tinggi. Kapasitas Oksidatif tinggi dan kapasitas glikolitik rendah

Pada Tipe II, serabut putih karena ketiadaan mioglobin dan bergantung pada enzim glikolitik. Serabut-serabut ini efisien untuk memicu daya dan kecepatan pendek. Serabut tersebut menggunakan metabolisme oksidatif dan metabolisme anaerobik, bergantung pada rincian sub jenisnya. Serabut ini lebih cepat lelah. 

Serabut Tipe II dibagi lagi menjadi 3 sub-jenis, yaitu:

1. Tipe II a memiliki waktu kontraksi agak cepat, ukuran dari neuron motornya sedang dan ketahanan pada kelelahan cukup tinggi. Sub jenis ini digunakan untuk kegiatan anaerobik jangka panjang (contohnya lari jarak menengah dan berenang) dengan durasi maksimum kurang dari 30 menit. 

Serabut ini tampak berwarna merah dan daya yang dihasilkan sedang. Densitas dari mitokondria tinggi dan densitas kapiler sedang. Kapasitas Oksidatif tinggi dan kapasitas glikolitik tinggi

2. Tipe II x memiliki waktu kontraksi cepat, ukuran dari neuron motor besar dan ketahanan pada kelelahan juga sedang. Sub jenis ini digunakan untuk kegiatan anaerobik jangka pendek (contohnya lari jarak pendek) dengan durasi maksimum kurang dari 5 menit. Tetapi daya yang dihasilkan tinggi. 

Densitas dari mitokondria sedang dan densitas dari kapiler rendah. Kapasitas Oksidatif sedang dan kapasitas glikolitik tinggi

3. Type II b memiliki waktu kontraksi sangat cepat, ukuran dari neuron motor juga sangat besar. Ketahanan serabut ini pada kelelahan rendah, digunakan untuk kegiatan anaerobik jangka pendek (contohnya lari jarak pendek) dengan durasi maksimum kurang dari 1 menit. Tetapi daya yang dihasilkan sangat tinggi. 

Densitas dari mitokondria dan kapiler rendah. Kapasitas Oksidatif rendah dan kapasitas glikolitik tinggi

Serabut jaringan otot lurik tidak semuanya sama. Secara tradisional serabut tersebut dikelompokkan berdasarkan ragam warnanya, di mana warna tersebut merupakan cerminan dari kandungan mioglobin. 

Serabut merah mengandung oksigen penyimpan protein dan mioglobin tingkat tinggi. Serabut berwarna merah ini cenderung memiliki mitokondria lebih banyak dan densitas kapiler lokal lebih besar. Sedangkan serat putih kandungannya lebih rendah.

Serabut otot lurik ini juga dibedakan berdasarkan kemampuannya untuk mengedut. Apakah itu kedutan cepat atau kedutan lambat. Pengelompokan ini memang tumpang tindih dengan pengelompokan berdasarkan warna sebelumnya.

Serabut kedutan cepat memiliki kemampuan transmisi elektrokimia dari potensial tindakan yang lebih tinggi. Kalsium dengan tingkat yang cepat dilepaskan dan diambil oleh retikulum sarkoplasmik. 

Serabut dengan kedutan cepat ini mengandalkan sistem glikolitik transfer energi dan dapat melakukan kontraksi dan mengembangkan tegangan dua hingga tiga kali lebih cepat dari kecepatan serabut kedutan rendah. Sedangkan serabut kedutan rendah menghasilkan energi untuk re-sintesis ATP melalui sistem jangka panjang dari transfer energi aerobik.

Serabut-serabut kedutan rendah ini cenderung memiliki tingkat kegiatan rendah dari pembentukan ATP. Kecepatan kontraksi lebih rendah dengan kapasitas glikolitik yang lebih sedikit. 

Serabut kedutan rendah mengandung jumlah mitokondria yang lebih besar dan banyak, serta mioglobin tingkat tinggi yang dapat memberikan pigmentasi merah. Konsentrasi enzim mitokondria lebih tinggi, sehingga lebih tahan terhadap kelelahan.

Posting Komentar untuk " Jaringan Otot Lurik"