Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

GUNUNG FUJIYAMA : Legenda Gunung Fujiyama

Gunung Fujiyama

Gunung Fujiyama merupakan salah satu gunung yang terkenal di dunia. Gunung ini letaknya di bagian perbatasan prefektur Shizuoka dan Yamanashi, arah barat dari kota Tokyo. Gunung ini sendiri dikenal sebagai gunung tertinggi di kawasan Jepang.

Gunung Fujiyama digolongkan sebagai salah satu gunung berapi, namun sudah tidak lagi aktif sejak beberapa waktu yang lalu. Gunung ini berada di dekat pesisir Pasifik di pusat Honshu. 

Gunung Fujiyama sendiri dikelilingi oleh tiga kota yakni Gotemba di bagian timur,Fuji Yoshida di bagian utara serta Fujinomiya yang terletak di sebelah barat daya.

Sebagai gunung tertinggi di Jepang, Gunung Fujiyama memiliki ketinggian sekitar 3.776 meter. Di sekitarnya terdapat lima danau yang cukup indah. Kelima danau tersebut antara lain danau Kawaguchi, danau Yamanaka, danau Sai, danau Motosu serta danau Shoji.

Bagi masyarakat Jepang, Gunung Fujiyama memiliki arti yang sangat penting. Gunung ini dianggap memiliki nilai ritual yang sangat tinggi sehingga dianggap sebagai salah satu gunung suci di Jepang. 

Di sisi lain, gunung ini menjadi salah satu daya tarik yang sangat kuat bagi para wisatawan yang mengunjungi Jepang. Itulah mengapa, gunung ini dijadikan simbol negara Jepang yang digambarkan dalam berbagai karya seni. 

Bagi para pendaki, gunung Fujiyama menjadi salah satu daya tarik tersendiri untuk menaklukkan ketinggian puncak gunung tersebut.

Itulah mengapa, hampir 200.000 orang tercatat mendaki gunung ini setiap tahunnya. Sepertiga diantara para pendaki tersebut merupakan wisatawan dari luar Jepang.

Salah satu waktu yang dianggap paling tepat untuk mendaki gunung tersebut adalah pada tanggal 1 juli hingga 27 Agustus. Sebab, pada rentang waktu tersebut cuaca dianggap bersahabat dan juga akan memungkinkan para pendaki menikmati segala keindahan yang ada di gunung tersebut.

Banyaknya wisatawan yang menyukai mendaki gunung Fujiyama ini salah satunya adalah faktor medan yang ditempuh. Berbeda dengan pendakian pada gunung berapi di Indonesia, gunung Fujiyama relatif cukup bersahabat dengan para pendaki.

Tersedianya beberapa jalur pendakian, memudahkan para pendaki termasuk mereka yang masih pemula, untuk bisa mencapai puncak gunung tersebut dengan mudah. Fasilitas keamanan dan petunjuk arah, tidak menyulitkan siapa pun juga yang baru pertama kali mendaki gunung tersebut. 

Untuk mendaki, seseorang hanya membutuhkan waktu antara 3 sampai 7 jam saja. Sementara waktu tempuh saat menuruni gunung ini juga bisa lebih cepat. Hanya dalam waktu 2-5 jam saja, seseorang sudah bisa kembali ke pos pendakian pertama.

Dalam sejarah kegunung berapian, para ahli memperkirakan bahwa gunung Fujiyama atau gunung Fuji ini sudah ada sejak 10 ribu tahun yang lalu. Meskipun sudah lama tidak meletus, namun bukan berarti gunung ini sudah sama sekali tidak aktif. Letusan gunung Fujiyama yang terakhir kali terjadi pada tahun 1707.

Asal Usul Nama Fujiyama

Gunung Fujiyama

Sebagaimana di Indonesia, gunung Fujiyama juga memiliki legenda yang berhubungan dengan asal usul nama gunung tersebut. Dalam legenda yang dipercaya masyarakat Jepang, nama Fujiyama bermula dari kisah sepasang suami istri yang tinggal di kaki gunung tersebut.

Pekerjaan sang kakek setiap hari adalah menebang bambu untuk kemudian menjualnya ke pasar untuk memperoleh penghasilan. Suatu hari, saat menebang pohon bambu, sang kakek menemukan seorang anak yang tingginya 9 cm, di dalam salah satu batang pohon bambu yang ditebangnya.

Akhirnya, kakek tersebut membawa pulang anak tersebut dan memeliharanya. Sejak saat itulah, setiap kali berangkat ke hutan untuk menebang bambu, kakek tersebut selalu saja mendapat emas di dalam batang bambu  yang ditebangnya. Akibatnya, kehidupan suami istri yang sebelumnya miskin tersebut, berangsur membaik dan menjadi orang kaya.

Si anak yang diberi nama Kaguya pun kemudian tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik. kecantikannya tersebar hingga ke berbagai penjuru Jepang. Akibatnya, banyak pria yang berusaha untuk melamar dan menjadikannya istri. Mereka datang dari berbagai latar belakang, mulai dari rakyat jelata hingga kalangan pejabat kerajaan.

Namun tanpa alasan yang jelas, Kaguya menolak semua lamaran yang datang padanya. Dalam penolakannya, Kaguya berdalih dengan memberi syarat yang sulit diberikan oleh para pelamarnya. Bagi siapa saja yang bisa memberikan barang tersebut, maka Kaguya bersedia untuk menjadi istri mereka.

Tentu saja, tidak ada yang berhasil mendapatkan barang-barang yang diminta Kaguya. Karena barang yang diminta oleh Kaguya, mustahil ada dan ditemukan oleh orang- orang tersebut. misalnya mangkuk suci Buddha, kalung yang berasal dari bola mata naga, kipas bercahaya dan lain sebagainya.

Setiap kali ada yang datang membawa barang-barang tersebut, mereka akan segera pulang dengan rasa malu. Sebab, Kaguya selalu mengetahui bahwa barang-barang yang mereka bawa adalah palsu adanya. 

Dalam syarat yang diberikannya, Kaguya menyuruh orang-orang tersebut untuk membawa barang-barang yang asli sehingga mustahil bisa dipenuhi.

Hal ini berlangsung terus menerus sampai kemudian datang bulan purnama pada tanggal 8 Agustus. Saat melihat bulan tersebut, Kaguya menangis. Hal ini menjadikan kakek nenek yang merawatnya bertanya mengapa Kaguya menangis. Akhirnya, Kaguya membuka jati dirinya bahwa sebenarnya dirinya adalah putri yang berasal dari bulan.

Dan pada saat bulan purnama tersebut, Kaguya harus kembali ke bulan. Mendengar cerita Kaguya, sepasang suami istri tersebut menangis sedih. Mereka mengharap Kaguya untuk tinggal lebih lama dengan mereka. 

Kaguya pun tidak bisa menjawab permintaan suami istri yang selama ini merawatnya dengan penuh kasih sayang. Sebab, ketetapan bulan menjadikannya harus kembali ke tempat asalnya dan meninggalkan kedua orang yang baik hati tersebut.

Ketika utusan bulan datang ke rumah mereka, sang kakek dan nenek berusaha dengan keras untuk mempertahankan Kaguya. Mereka tidak mau berpisah dengan Kaguya yang sudah dianggap sebagai anak mereka itu.

Namun, upaya sang kakek dan nenek itu sia-sia belaka. Kaguya tetap pergi menuju bulan bersama dengan para penjemputnya.

Meski begitu, Kaguya yang juga merasa sedih memberikan kenang-kenangan berupa Fushi no kusuri atau obat hidup kekal kepada kakek nenek yang sudah merawatnya. 

Namun, sang kakek justru membakar obat tersebut. Sebab baginya keberadaan Kaguya di sisi mereka, jauh lebih berharga daripada sekedar hidup kekal di dunia.

Kakek tersebut, membakar obat pemberian Kaguya di atas puncak gunung tertinggi Jepang. Gunung dimana sang kakek membakar obat ini selanjutnya dikenal dengan nama Fushi no yama atau gunung abadi. Gunung inilah yang pada saat ini dikenal dengan nama gunung Fujiyama.

Gunung Bunuh Diri

Selain kisah legenda tersebut, gunung Fujiyama menyimpan sebuah misteri yang cukup menakutkan. Hal ini karena gunung tersebut dikenal sebagai salah satu lokasi favorit bagi mereka yang ingin mengakhiri hidupnya atau bunuh diri. Hal ini diketahui dari data, bahwa setiap tahunnya tidak kurang dari 100 mayat yang ditemukan di tempat tersebut.

Atas fenomena tersebut pemerintah dan organisasi setempat pun membuat sebuah tindakan. Antara lain dengan membuat tulisan yang mudah dibaca setiap orang yang masuk ke kawasan gunung Fujiyama. 

Dalam tulisan itu, setiap orang dianjurkan untuk berpikir dengan jernih sebelum memutuskan untuk mengakhiri hidupnya di gunung Fujiyama tersebut.

Posting Komentar untuk " GUNUNG FUJIYAMA : Legenda Gunung Fujiyama"