Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Keunikan dan Habitat Trenggiling

trenggiling
credit:[email protected]_utomoart

Kini habitat trenggiling sudah sulit ditemui. Banyak sekali jenis hewan yang terdapat di Indonesia, banyak pula yang termasuk dalam daftar hewan langka. Trenggiling merupakan salah satunya.

Penyebab populasi trenggiling di alam menurun dengan tajam, yaitu disebabkan karena semua bagian tubuh trenggiling bisa digunakan oleh manusia dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

Bila daging trenggiling dijual, maka harga jual yang tinggi di pasar lokal maupun internasional akan diperoleh. Di samping itu, kulit trenggiling bisa pula dipakai sebagai bahan pembuat kosmetik, obat kuat, dan bahan untuk membuat shabu-shabu.

Karena harga jual daging maupun kulitnya yang tinggi inilah banyak orang yang memburu trenggiling untuk diekspor secara ilegal.

Tentang Trenggiling (Manis Javanica)

Trenggiling atau yang juga disebut trenggiling atau pantolin atau peusing merupakan hewan mamalia yang tidak memiliki gigi. Hewan yang bernama latin Manis Javanica ini hidup di kawasan hutan hujan tropis dataran rendah.

Trenggiling memiliki bentuk tubuh yang memanjang. Panjang tubuhnya, dari kepala hingga ekor trenggiling dewasa adalah kira-kira 90 cm. Panjang ekornya kira-kira 40 cm dan beratnya bisa mencapai 12 kg.

Lazimnya, trenggiling jantan lebih panjang daripada trenggiling betina. Trenggiling betina mempunyai lidah yang bisa dikeluarkan sampai sepertiga dari panjang tubuhnya untuk mencari semut di sarangnya.

Selain itu, trenggiling memiliki 2 pasang kaki yang pendek, mata, telinga, mulut, dan sisik yang keras. Trenggiling melindungi dirinya dari musuh dengan menggunakan sisiknya yang keras, tebal, dan tajam.

Selain itu, trenggiling pun melindungi tubuhnya dengan cara menggulung tubuhnya sampai berbentuk seperti bola. Sehingga susah dimakan oleh predator, misalnya ular.

Akan tetapi, posisi ini menggampangkan manusia untuk memegangnya. Trenggiling juga bisa menggerakkan ekornya yang memiliki sisik tajam sehingga dapat melukai pengganggunya. Trenggiling merupakan hewan yang aktif melakukan kegiatannya di malam hari.

Makanan trenggiling yaitu serangga, yang paling utama adalah semut dan rayap. Yang merupakan hama bagi tanaman. Kehadiran trenggiling amat penting sebagai pengendalian populasi hama serangga.

Bila populasi trenggiling punah ataupun berkurang. Maka akan memberikan dampak pada ledakan hama serangga. Trenggiling bersembunyi di lubang sarangnya pada waktu siang. Beberapa ada yang tinggal di atas dahan pohon.

Trenggiling senang bersarang di lubang-lubang yang ada di bagian akar-akar pohon besar. Atau membuat lubang dalam tanah yang digali dengan memakai cakar kakinya.

Ia juga kadang menduduki lubang-lubang bekas tempat tinggal hewan lainnya. Pintu masuk ke lubang sarang suka ditutup olehnya.

Trenggiling merupakan wakil dari ordo Pholidota yang masih dijumpai di Asia Tenggara. Trenggiling terdiri atas satu genus (jenis) dan tujuh spesies (rumpun), di antaranya, yaitu:

  • Manis Javanica, spesies ini hidup terpencar di Indonesia, Indochina, dan Malaysia.
  • Manis Pentadactyla, spesies ini hidup terpencar di Himalaya Timur, Nepal, China, dan Myanmar.
  • Manis Crassicaudata, spesies ini hidup di Sri Lanka dan India.
  • Manis Tetradactyla, trenggiling yang tidak memiliki ekor yang hidup di Asia.
  • Manis Temminckii, spesies ini hidup di Asia.
  • Manis Tricuspis, spesies ini hidup di Asia.
  • Manis Gigantea, spesies ini hidup di Afrika.

Fakta-Fakta pada Trenggiling (Manis Javanica)

hewan-trenggiling

• Tubuh trenggiling lebih besar daripada kucing. Sisik di bagian punggung dan luar kaki trenggiling memiliki warna coklat terang. Karena trenggiling tak memiliki gigi, trenggiling memangsa makanan yang berupa semut dan serangga dengan memakai lidahnya.

• Trenggiling mempunyai jantung seperti manusia, yaitu terdiri atas empat bagian. Yaitu, bagian atas disebut sebagai atrium, sedangkan bagian bawah disebut ventrikel.

• Trenggiling menggunakan lidahnya untuk menjilat buruannya. Berkat ludahnya, semut dan rayap akan menempel di lidahnya. Trenggiling adalah hewan nokturnal yang aktif melakukan aktivitas hanya di malam hari.

• Hewan langka ini dapat berjalan beberapa kilometer. Dan kembali lagi ke lubang sarang yang ditinggalinya untuk beberapa bulan.

• Habitat trenggiling berada di kawasan hutan hujan tropika, sangat sesuai sebagai habitat kehidupan liar. Terkadang trenggiling disebut pula sebagai anteater.

• Trenggiling tinggal di bagian akar pohon, lubang-lubang bawah pokok, di dalam lubang sarang anai-anai juga semut yang digali, dan pada batang pokok yang berlubang.

• Makanan kesukaan trenggiling, yakni dari rumpun semut dan rayap. Menurut biologinya, trenggiling merupakan pendahulu semula jadi populasi rayap di hutan berkurang.

• Musim kawin trenggiling jatuh pada bulan April hingga Juni. Sang betina akan melahirkan anaknya sesudah sang betina mengandung selama beberapa bulan.

• Anak trenggiling yang baru dilahirkan memiliki berat kira-kira setengah kilogram (500 gram) dan panjang kira-kira 45 cm. Tidak lama sesudah lahir, anak trenggiling langsung dapat berjalan.

• Ketika lahir, sisik anak trenggiling masih halus. Tetapi dalam waktu dua hari sisiknya akan menjadi keras. Umumnya, selama tiga hingga empat bulan, induk trenggiling akan menjaga anaknya. Selama waktu tersebut, sang induk akan sering membawa anaknya di atas ekornya.

• Trenggiling memiliki siklus hidup proliferasi dengan beranak (vivipar). Trenggiling bisa tumbuh sampai dengan sepanjang 85 sentimeter.

• Pada jenis lainnya, bisa tumbuh kira-kira dari 30 cm sampai 100 cm. Karena hidup di permukaan tanah, trenggiling sanggup menaiki pohon.

• Sisik pada tubuh trenggiling sejenis dengan rambut pada satwa lainnya. Sisiknya yang bertumpuk memiliki peran sebagai pertahanan, laksana tank.

Keunikan Trenggiling

Trenggiling memiliki rambut yang terkonversi menjadi serupa sisik besar yang terstruktur membentuk perisai bertumpuk sebagai alat benteng diri. Eksistensi trenggiling menjadi rawan adalah imbas dari terganggunya habitatnya, juga menjadi target perdagangan hewan liar.

Binatang unik ini kian hari kian langka karena dampak dari banyaknya pengejaran. Pengejaran ini ditimbulkan oleh tingginya harga jual daging dan sisik trenggiling.

Harga daging trenggiling di pasar gelap menggondol Rp 1.000.000 per kg. Sedangkan, untuk sisik trenggiling diberi harga Rp 9.000 per keping. Daging maupun sisik hewan ini banyak diekspor ke Singapura, China, Laos, Thailand, dan Vietnam.

Daging hewan ini dimanfaatkan sebagai bahan kosmetika, kudapan di restoran, juga obat kuat. Sisiknya acapkali digunakan sebagai salah satu bahan penyusun shabu-shabu.

Hewan ini dilindungi di Indonesia. Menurut CITES, trenggiling masuk ke dalam Appendix II yang berarti dilarang diperjualbelikan. Selain itu, IUCN menyisipkannya ke dalam lis risiko rendah juga nyaris punah.

Mempunyai cakar yang panjang dan lidah yang menyulur sama panjangnya, memungkinkan hewan ini mencabik sarang semut dan anai-anai. Lidahnya dipakai untuk menjilat mangsanya.

Pada bagian dada trenggiling ada kelenjar ludah yang amat besar. Kelenjar ini membuahkan cairan yang dapat melekat insek. Meskipun trenggiling senantiasa menjadi kudapan masyarakat Asia Tenggara.

Namun, penyebab utama kepunahannya bukanlah hal tersebut. Penyebab utamanya adalah bobroknya habitat trenggiling.

Ada beberapa hutan yang ludes, menjadi penyebab utama punahnya trenggiling. Hutan-hutan tersebut adalah hutan yang berada di Asia Tenggara, India, dan Afrika. Musnahnya hutan-hutan tersebut menyebabkan hewan unik ini masuk ke dalam daftar hewan yang layak dilestarikan.

Posting Komentar untuk " Keunikan dan Habitat Trenggiling"