Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ilmu Perbintangan dalam Navigasi Pelayaran

Ilmu Perbintangan dalam Navigasi Pelayaran
credit;[email protected]_fact

Ilmu Perbintangan atau astronomi merupakan studi pengamatan terhadap benda-benda langit beserta segala fenomena yang terjadi di luar atmosfer Bumi. Astronomi adalah studi interdisipliner dari berbagai macam ilmu eksak, seperti Fisika, Kimia, dan Matematika. 

Benda-benda langit dengan segala aspeknya merupakan objek studi astronomi. Dari objek pengamatan tersebut, tujuan dari astronomi adalah untuk mengetahui tentang pembentukkan alam semesta beserta perkembangannya.

Ilmu Perbintangan sudah berkembang sejak zaman purba, jauh sebelum Galileo Galilei merancang teleskop pertamanya. Astronomi sudah berkembang di Mesir Kuno, Cina pada masa Dinasti Han, Yunani dan India. 

Pengamatan terhadap benda langit pada masa-masa tersebut dilakukan dengan cara-cara sederhana yaitu dengan mata langsung, atau direfleksikan dengan cermin.

Hasil pengamatan kemudian dicatat dan ditafsirkan sesuai dengan kebudayaan masing-masing. Hasil pengamatan bintang digunakan dalam berbagai kehidupan manusia, seperti dalam usaha di bidang pertanian, berbagai ritual religi, dan juga navigasi.

Penemuan teleskop oleh Galileo Galilei pada 1608, membuat studi pengamatan benda langit menjadi lebih sistematis. Pada masa sekarang, astronomi juga merupakan bagian dari hobi. Tidak sedikit para pehobi astronomi merupakan astronom-astronom amatir, namun konstribusi mereka terhadap perkembangan astronomi masih cukup penting.

Pada masa awal perkembangan, kegiatan utama astronomi adalah memetakan letak dan posisi bintang dan planet. Pada masa sekarang, kegiatan pemetaan benda langit biasa disebut astrometri. Dari hasil pemetaan, lahir beberapa konsep hingga teori tentang pergerakan benda-benda di alam semesta.

Debat paling panjang yang pernah berlangsung adalah tentang poros perputaran Bumi dan Matahari, apakah Bumi merupakan pusat dari perputaran Matahari beserta planet-planet lainya atau justru Bumi yang mengelilingi Matahari.

Rasi Bintang sebagai Penunjuk Arah

rasi-bintang-orion

Sekitar abad ke-2 Sebelum Masehi (SM), Hipparchus menemukan suatu cara metode penghitungan pergerakan dan ukuran Bulan dan Matahari. Ia juga dapat memperkirakan dengan tepat jarak antara Bumi dan Matahari. 

Sebagian besar pemetaan rasi bintang di belahan langit utara disusun berdasar formulasi Hipparchus. Hipparchus berhasil mengkatalogisasi sekitar 1.020 rasi bintang.

Pada kondisi yang sederhana, beberapa rasi bintang yang sering terlihat di langit dapat digunakan sebagai penunjuk arah. Arah utara dapat ditentukan berdasar letak Rasi Bintang Biduk. 

Nama lain Rasi Bintang Biduk adalah Rasi Beruang Besar, Gayung, atau Ursa Mayor. Sering juga disebut sebagai Bintang Tujuh karena dari rasi ini terlihat tujuh buah bintang yang bersinar.

Sedangkan arah selatan dapat ditentukan berdasar Rasi Bintang Pari (Crux). Bentuk rasi bintang ini seperti salib, sering juga diimajinasikan mirip layang-layang.

Pada bagian langit sebelah barah, terdapat Rasi Bintang Orion. Pada Rasi Bintang Orion, terdapat tiga buah bintang yang sinarnya cukup terang. Ketiga buah bintang ini terletak sejajar seakan membentuk sebuah sabuk. 

Untuk arah timur, terdapat Bintang Timur. Bintang Timur merupakan salah satu rasi bintang utama yang digunakan sebagai pemandu dalam pelayaran samudera, terutama sebelum berbagai peralatan navigasi ditemukan.

Rasi Bintang Orion merupakan salah satu rasi bintang yang cukup populer di seluruh dunia. Di berbagai belahan dunia, Rasi Bintang Orion sarat akan cerita dan mitologi. 

Pada zaman dahulu (sebelum terjadi fenomena perubahan iklim dan program intensifikasi pertanian), kemunculan Rasi Bintang Orion merupakan pertanda bagi para petani di Jawa untuk memulai menanam padi di sawah. 

Dalam bidang pelayaran, bangsa Austronesia telah menggunakan Rasi Bintang Orion sebagai penunjuk arah barat dan timur.

Bangsa Austronesia merupakan sebutan untuk kelompok manusia yang bertutur menggunakan bahasa Austronesia. Bangsa Austronesia tersebar mulai dari Pantai Timur Afrika dan Kepulauan Madagaskar, Asia Timur hingga Australia, hingga Kepulauan Hawaii di Samudera Pasifik.

Pada daerah persebaran ini, ada beberapa daerah kantung yang tidak bertutur bahasa Austronesia, seperti Suku Toraja di Sulawesi Selatan dan Suku Batak Samosir di Sumatera Utara. Namun daerah-daerah tersebut merupakan daerah terisolasi karena bentang alam yang sulit.

Bangsa Austronesia menyebar akibat pelayaran dan perdagangan antarpulau yang sudah marak sejak abad ke-2 Sebelum Masehi (SM).

Ilmu Astronomi Pelayaran

Astronomi digunakan sebagai ilmu bantu untuk ilmu-ilmu yang lain. Ilmu pelayaran astronomi (nautical astronomy) merupakan bagian dari ilmu pelayaran yang mempergunakan astronomi sebagai ilmu bantu untuk menentukan posisi kapal. 

Ilmu pelayaran astronomi sangat berguna dalam pelayaran samudera. Dalam ilmu pelayaran astronomi, posisi suatu kapal ditentukan dengan bantuan tinggi benda angkasa.

Sebelum GPS (global Positioning System), radar, dan radio, alat untuk menentukan posisi kapal di lautan lepas adalah sekstan (sextant). Penggunaan utama sekstan adalah untuk mengukur dan menentukan posisi bintang. 

Pada masa sekarang, porsi penggunaan sekstan sudah sangat kecil karena dari waktu ke waktu telah digantikan oleh alat seperti teleskop transit, dan panduan satelit Hipparcos.

Prinsip kerja sekstan adalah pengukuran sudut antara dua objek yang terlihat. Objek utama pengamatan dalam penggunaan sekstan adalah benda langit dan cakrawala. Kedua objek tersebut akan membentuk suatu sudut dan dapat diketahui pula ketinggian objek yang diamati. 

Skala dalam sekstan memiliki panjang seperlima lingkaran, oleh karena itu disebut sebagai sextant dari asal kata sextans – antis (Latin) yang berarti “seperenam”.

Benda langit yang digunakan dalam penggunaan sekstan tidak hanya bintang, namun dapat pula Matahari. Oleh karena itu penggunaan sekstan tidak hanya terbatas pada malam hari, namun bisa digunakan pada siang hari.

Matahari (pada siang hari) dan Bintang Polaris digunakan untuk menentukan posisi dalam garis lintang (sumbu utara selatan). Sedangkan penggunaan Bulan dan bintang-bintang yang lain adalah untuk menentukan posisi zona waktu dalam standar GMT. 

Posisi dalam sebuah zona waktu berarti pula posisi dalam garis bujur (sumbu barat timur). Persilangan antara garis lintang dan garis bujur merupakan posisi kapal.

Dari berbagai pengalaman pelayaran samudera, penggunaan rasi bintang yang berada di langit bagian utara ternyata lebih akurat daripada rasi bintang di langit belahan selatan. 

Keakuratan bisa didapatkan jika pengukur dapat memastikan letak Bintang Polaris yang merupakan ekor dari Rasi Bintang Biduk. Posisi Bintang Polaris berimpit dengan Kutub Utara (oleh karena itu disebut polar-is).

Sayangnya, rasi bintang di langit utara jelas hanya bisa dilihat oleh pengukur jika sedang berada di lautan bagian utara pula. Rasi Bintang Polaris juga sedikit sulit dilihat jika pengukur berada dekat dengan ekuator, dan semakin tidak bisa dilihat jika sudah berada di Bumi bagian selatan. 

Rasi bintang paling mudah untuk membantu penentuan posisi kapal jika sedang berada di Bumi bagian selatan adalah Bintang Pari.

Untuk melihat dan mengukur sudut yang terbentuk antara benda langit (matahari, bintang, atau planet) dengan cakrawala, sebuah teleskop bintang harus dipasang pada sekstan. Cakrawala harus dapat dilihat. Penggunaan sekstan akan semakin akurat jika dipadukan dengan kompas.

Ketepatan arah sangat berguna dalam menentukan objek langit yang akan digunakan. Hanya memang, penggunaan kompas harus sedikit hati-hati karena ada beberapa wilayah perairan terbuka yang memiliki anomali medan magnet, sehingga kompas dapat menunjukan ketidakakuratan.

Perkembangan Ilmu Perbintangan memiliki pengaruh cukup besar dalam navigasi pelayaran samudera. Peta laut dibuat terutama oleh para pionir pelayaran samudera, dan kemudian sangat berguna dalam pelayaran dan perdagangan saat internasional.

Pelayaran internasional pada akhirnya membawa perubahan cukup besar pada kehidupan di Bumi, tidak saja penyebaran dan pertukaran ide dan gagasan di seluruh dunia, namun juga kolonisasi dan penjajahan berkembang cukup pesat karena pelayaran internasional.

Posting Komentar untuk " Ilmu Perbintangan dalam Navigasi Pelayaran"