Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Filsafat Alam Yunani Kuno

Filsafat Alam Yunani Kuno

Dalam mengantarkan filsafat alam, khususnya filsafat Yunani Kuno, kita akan berbicara tentang munculnya ilmu pengetahuan bagaimana orang-orang Yunani memahahi alam sekitarnya. Filsafat alam merupakan bentuk lahirnya sebuah pemikiran manusia dalam memahami sesuatu melalui akalnya.

Pada abad ke-6 SM, perkembangan terjadi di sejumlah tempat terpisah di seluruh dunia. Di berbagai wilayah, seperti di timur Mediterania, Cina, India, Yunani, para pemikir kreatif mulai memahami fenomena alam dengan akalnya. 

Mereka menentang dan melempai mitologi, kepercayaan, religi masyarakatnya yang masih berpikir abstrak. Mereka adalah para filsuf yang mencari kebenaran dengan jawaban-jwaban logika.

Mereka adalah orang-orang pintar, orang bijak yang percaya akan kecerdasannya sendiri, bersikap kritis terhadap opini populer, dan persuasif terhadap para pengikutnya. Mereka menolak mitos bahwa kehidupan ini lahir dari hasil persetubuhan langit dan bumi, bahwa Venus muncul dari lautan Zeus.

Mereka dengan tegas menolak konsep tentang hakikat sesuatu yang berhubungan dewa-dewi dalam memahami sesuatu sehingga membuat semua pertanyaan terjawab dengan jawaban atas kehendak dewa.

Dalam kosmologi Yunani Kuno, dunia dibayangkan sebuah cakram bundar yang datar, ditangkupi sebuah cawan yang kita lihat sebagai langi. Di bawahnya, dunia disangga oleh sesuatu yang mirip batang pohon. Dunia berakar di dalam Hades, dunia bawah, alam yang paling gelap.

Menurut penyair Hesiod, yang pertama adalah Chaos. Bukan dalam arti kekacauan yang sempurna, melainkan pada sebuah ketiadaan bentuk  (formlessness). Barangkali, Hesiod ingin menerangkan jurang antara langit dan bumi.

Aristoteles mengartikan Chaos sebagai 'ruang'. Bersama Chaos, datang Gaia Bumi dan Eros (yang digambarkan sebagai air mani langit). Dari Chaos, keluarlah malam dan siang lalu munculah kehidupan. Menurut mitologi Yunani Kuno, manusia tercipta dari abu para Titan yang dibunuh Zeus karena para titan telah membunuh Dionysus.

Sementara para Titan sendiri dilahirkan Gaia bumi yang melahirkan Zeus dan kehidupan. Maka, hakikat manusia dalam mitologi Yunani, sebagian alam dan sebagian lagi Dewa (illahi) sumber dari pembentukan alam semesta.

Para filsuf Yunani yang pertama adalah orang-orang Miletus. Miletus adalah sebuah negeri besar yang didirikan oleh Athena. Seorang filsuf pertama Yunani adalah Thales, yang mulai menolak kosmologi penciptaan dunia.

Nalar mulai mencermati alam. Dia berpikir bahwa alam semesta ini bisa dipahami oleh alam bukan oleh mitos dan takhayul. Dia membuat sebuah teori bahwa asal-usul alam ini adalah terbuat dari air. Dia berpendapat bahwa sebagian besar bumi ini adalah air.

Thales juga memberikan teori-teori penjelas yang mendasar, seperti ide pundamental bahwa dunia terdiri dari pertentangan-pertentangan, seperti panas dan dingin, basah dan kering. Realitas terakhir dapat dipahami bahwa kehidupan manusia harus dijalani dan dipahami dalam pandangan tersebut.

Dari sana, muncul berbagai filsuf yang memahami kosmologi alam, seperti Pytagoras, ahli matematika yang menemukan rumus sisi miring segitiga. Xenophanes, Anaximenes, Sokrates, Aristoles, sampai Galileo yang menemukan teori gravitasi.

Mereka semua adalah orang-orang cerdas yang mau memahani alam dengan akalnya. Maka, mitologi Yunani pun lambat laun pudar dan diganti dengan berkembangnya ilmu pengetahuan.

Filsafat alam menrupakan sumber pengetahuan alam semesta. Dalam teori ini, manusia hanya memahami dan menempatkan dirinya pada akal yang universal meskipun manusia dapat menguak alam semesta dengan ilmu pengetauannya. 

Seperti zaman sekarang, dengan munculnya teori fisika modern yang dapat mengukap bahwa tidak ada benda mati di muka bumi ini karena digerakan oleh elektron yang menglilingi inti atom.

Namun, tidak seorang pun dapat melihat bentuk elektron seperti apa. Inilah yang namanya rahasia alam. Alam akan menampakkan dirinya pada manusia dengan cara sendiri.

Post a Comment for " Filsafat Alam Yunani Kuno"