Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Filsafat Barat Yunani Kuno dan Tragedi Socrates

Filsafat Barat Yunani Kuno dan Tragedi Socrates

Jangan terkecoh dengan istilah barat dan timur dalam filsafat. Istilah itu tidak selalu merujuk pada pembagian teritori suatu wilayah belahan dunia ini. Filsafat barat dan filsafat timur adalah suatu cara pengelompokan pemikiran filsafat berdasar corak pemikirannya.

Perbedaan mendasar antara filsafat barat dan filsafat timur, dengan sendirinya juga menunjuk pada perbedaan corak pemikiran ini, di mana filsafat barat mengedepankan aspek rasionalitas sedangkan filsafat timur mengedepankan aspek intuisi.

Konon, filsafat barat dilahirkan sebagai buah kemenangan akal atas dongeng atau mitos yang diterima dari agama. Pengertian tentang asal mula segala sesuatu di dunia ini mulai diragukan oleh para filsuf, dan mereka mulai menyelidiki hal itu dengan akal pikirannya. Pada mulanya, filsafat berkembang di Yunani (Greek) dan pada akhirnya menyebar ke seluruh pelosok belahan dunia.

Filsafat Barat Yunani Kuno

Para pemikir filsafat barat yang pertama sering disebut dengan filsuf alam, karena mereka menjadikan alam sebagai objek kajian pemikiran filsafat mereka. Tokoh-tokohnya yang terkenal adalah Thales (625-545 SM), di mana dia berpendapat bahwa yang menjadi asal mula segala sesuatu adalah air. 

Selanjutnya disusul oleh Anaximandros (610-540 SM) yang berpendapat bahwa asas pertama alam semesta adalah to apeiron (yang tak terbatas).

Lain lagi dengan Anaximenes (538-480 SM), menurutnya asal mula segala sesuatu adalah hawa atau udara. Sementara itu seorang ahli matematika bernama Pythagoras (580-500 SM), berpendapat bahwa asal mula pertama segala sesuatu adalah bilangan. 

Pendapat Pythagoras ini didukung juga oleh Xenophanes (570-480 SM), di mana dia juga melihat bahwa bilangan merupakan asal mula kenyataan yang ada.

Adapaun Herakleitos (540-475 SM), bersikukuh bawa asal mula segala sesuatu itu bisa ditemukan dalam api. 

Rumusan yang agak rumit selanjutnya dilontarkan oleh Parmenides (540-475 SM), menurutnya asal mula dari segala yang ada adalah keseluruhan dari segala sesuatu yang bersatu, yang tidak bergerak dan berubah. Pendapat ini diamini dan disetujui oleh filsuf alam lain, yakni Empedokles.

Socrates dan Demokrasi

Socrates menjadi tonggak maju dalam pemikiran filsafat barat Yunani, karena dia sudah tidak lagi hanya mempertanyakan persoalan mengenai asal usul alam. Socrates sudah mulai fokus dengan mempertanyakan hakikat manusia.

Sokrates (469-399 SM), menggunakan metode matematika, yaitu pengertian yang diambil dari proses persalinan. Socrates memposisikan dirinya laksana “bidan” yang membantu seseorang dalam proses persalinan dengan “melahirkan” pemikirannya. Metode ini dilakukan Socrates dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan orang.

Inti ajaran Socrates adalah anggapan bahwa jiwa atau hidup manusia bukanlah sekedar napas. Melainkan sesuatu yang memiliki arti lebih dalam lagi yang menjadikan jiwa sebagai inti sari manusia. Dengan demikian, esensi dari manusia adalah pribadi yang bertanggung jawab. Makna tanggung jawab inilah yang membedakan manusia dengan binatang.

Socrates juga seorang pemikir filsafat yang kontroversial. Dia dianggap “sinting” dan dimusuhi orang banyak. Salah satu “kesintingannya” ditunjukkan oleh perilakunya yang membawa obor pada siang hari bolong, berkeliling pasar, bertanya kepada orang-orang dengan pertanyaan; “tahukah kamu di mana kebenaran berada?”

Bahkan ketika di Yunani mulai diterapkan prinsip demokrasi, Socrates menolaknya dengan keras. Bagi Socrates, demokrasi adalah sistem politik yang aneh, di mana seseorang bisa bergiliran untuk saling memerintah dan diperintah.

Penolakan Socrates terhadap demokrasi, mengakibatkannya dimusuhi masyarakat. Akhirnya, dia dijatuhi hukuman mati karena menolak sistem demokrasi. Selama menunggu jalannya eksekusi, banyak kawan-kawannya yang membujuk dan berusaha mengeluarkan Socrates dari penjara. Tetapi Socrates menolaknya. Akhirnya Socrates pun menjalani eksekusi mati dengan menenggak anggur beracun.

Apa yang dilakukan Socrates sebenarnya bisa menjadi renungan bagi kita, bahwa ternyata demokrasi yang diagungkan itu telah cacat sejak lahir. 

Betapa tidak, demokrasi yang konon mendewakan perbedaan, ternyata tidak bisa bersikap akomodatif terhadap semua perbedaan. Buktinya, dia menghukum mati pihak-pihak yang menolaknya.

Post a Comment for " Filsafat Barat Yunani Kuno dan Tragedi Socrates"