Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sejarah Hukum Boyle

Sejarah Hukum Boyle

Sepenggal Kisah Boyle

Pernahkah Anda mengenal Hukum Boyle? Ya. Hukum yang diciptakan seseorang dengan nama yang sama. Robert Boyle lahir di Puri Limore, Propinsi Munster, Irlandia, pada 25 Januari 1627. Ia berasal dari keluarga bangsawan yang berpengaruh.

Anak ke-7 dari 15 bersaudara ini sudah menunjukkan bakat dan kecerdasan sejak kecil. Waktu bersekolah di SD Eton, sebuah sekolah yang muridnya anak-anak orang kaya, Boyle kecil merasa pelajaran di sekolahnya terlalu mudah. Akhirnya, ia memutuskan untuk berhenti sekolah.

Hingga akhir hayatnya, Boyle tidak pernah menamatkan SD. Meskipun demikian, bukan berarti ia berhenti belajar. Sekeluarnya dari SD, Boyle justru belajar di rumah dengan bimbingan seorang guru. Untuk memuaskan keingintahuannya, Boyle mengadakan perjalanan keliling Eropa, antara lain ke Prancis, Swiss, dan Itali.

Di Eropa, ia mempelajari buku-buku karya cendekiawan terkemuka, seperti Samuel Hartlib di Inggris, Descarter di Prancis, dan Galileo di Italia. Tulisan-tulisan Galileo tentang bintang sangat mempengaruhi pikiran Boyle. Bahkan, ia ingin mencurahkan seluruh hidupnya untuk perkembangan ilmu pengetahuan.

Walaupun ia tidak pernah mengenyam pendidikan formal, semangat dan kecintaannya pada pengetahuan sangat besar. Hartlib, salah seorang gurunya di Inggris, senantiasa mendorong Boyle untuk mencari kebenaran ilmiah lewat eksperimen, bukan hanya lewat teori. Di kemudian hari, nasihat Hartlib tersebut dibuktikannya dengan gamblang.

Hukum Boyle

Boyle pindah ke Oxford pada 1654. Di sini, ia mendirikan laboratorium sederhana. Saat Guericke, ahli fisika Jerman, menemukan pompa hampa udara pada 1650, Boyle sangat tertarik. Ternyata, cahaya dapat menerobos tabung hampa udara, tetapi bunyi tidak.

Boyle segera menghubungi ilmuwan Inggris lainnya, yaitu Robert Hooke, untuk membuat pompa hampa udara. Lalu, Boyle membuat percobaan sendiri. Hasilnya, ia dapat membuktikan bahwa bunyi tidak dapat menerobos tabung hampa udara.

Pada 1622, Boyle melakukan serangkaian percobaan menggunakan tabung gelas bentuk J yang ujung bagian pendeknya tertutup. Lalu, air raksa ditambahkan ke dalam tabung sehingga sejumlah gas di ujung tabung yang pendek dan tertutup menjadi “terperangkap”.

Kemudian, ditambahkan air raksa sedikit demi sedikit ke dalam tabung. Boyle mencatat dengan sangat teliti perubahan volume gas yang terjadi. 

Ternyata, tekanan gas dapat dicari dengan menghitung perbedaan ketinggian air raksa di bagian pendek tabung yang tertutup dan bagian panjang tabung yang terbuka. 

Bentuk matematikanya dapat dituliskan sebagai berikut:

PV = Konstan

Bila terdapat dua gas dalam tabung tertutup, maka berlaku: P1 V1 = P2 V2,  karena n1 = n2 dan T1 = T2.

Keterangan:

n1 = jumlah mol gas n1,  n2 = jumlah mol gas n2

T1 = Suhu gas 1 (dalam satuan Kelvin)

T2 = Suhu gas 2

P1 = Tekanan gas 1 (dalam satuan atm)

P2 = Tekanan gas 2

Percobaan tersebut membuktikan bahwa dalam suatu ruang tertutup, apabila suhu gas dijaga agar selalu konstan, ketika tekanan gas bertambah, volume gas semakin berkurang.

 Demikian juga sebaliknya. Ketika tekanan gas berkurang, volume gas semakin bertambah. Artinya, tekanan gas berbanding terbalik dengan volume gas. Pembuktian ini  dikenal sebagai Hukum Boyle.

Post a Comment for " Sejarah Hukum Boyle"