Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Siapakah Yang Menemukan Angka Nol? Mengapa Angka Nol Penting?

 

Siapakah Yang Menemukan Angka Nol? Mengapa Angka Nol Penting?
image via pixabay

SEJARAH DIEMUKANNYA ANGKA NOL

Dari placeholder hingga kalkulus, angka nol telah melintasi pikiran terbesar kita dan batas yang sangat beragam sejak ia ditemukan berabad-abad yang lalu. Saat ini, angka nol mungkin merupakan simbol global yang paling dikenal. Dalam sejarah munculnya angka nol, sesuatu bisa dibuat dari ketiadaan.

Nol atau nihil, seberapa sering menemukan pertanyaan yang dijawab dengan salah satu kata tersebut? Tak terhitung, tidak diragukan lagi. Namun di balik jawaban yang tampaknya cukup sederhana yang menyampaikan sesuatu yang tidak ada terletak cerita tentang ide yang membutuhkan waktu berabad-abad untuk berkembang, dan banyak pikiran untuk memahaminya. 

Memahami dan bekerja dengan angka nol adalah dasar dunia kita saat ini, tanpa adanya angka nol mungkin tidak akan mengenal kalkulus, akuntansi keuangan, kemampuan untuk membuat perhitungan aritmatika dengan cepat, dan, terutama di dunia yang terhubung sekarang ini, yakni komputer dan internet. Sejarah munculnya angka nol adalah kisah tentang ide yang membangkitkan imajinasi para pemikir besar di seluruh dunia berabad - abad lamanya.

Ketika seseorang berpikir tentang bilangan seratus, dua ratus, atau tujuh ribu, maka gambaran dalam pikirannya adalah sebuah digit diikuti oleh beberapa angka nol di belakangnya. Nol berfungsi sebagai placeholder, yaitu, tiga angka nol menunjukkan bahwa ada tujuh ribu, bukan hanya tujuh ratus. 

Jika kita kehilangan satu angka nol tersebut, maka itu akan mengubah jumlahnya secara drastis. Bayangkan saja satu angka nol dihapus (atau ditambahkan) ke gaji Anda! Namun, sistem bilangan yang kita gunakan saat ini  yakni Arabic, meskipun sebenarnya itu berasal dari India. Selama berabad-abad yang lalu orang - orang menandai jumlah dengan berbagai simbol dan gambar, meskipun itu tampak aneh untuk melakukan perhitungan aritmatika paling sederhana dengan sistem angka ini.

Orang Sumeria adalah orang pertama yang mengembangkan sistem penghitungan untuk menghitung persediaan barang mereka seperti sapi, kuda, dan keledai. Sistem Sumeria adalah berdasarkan posisi, artinya, penempatan simbol tertentu relatif terhadap yang lain yang menunjukkan nilainya. 

Sistem Sumeria diturunkan ke Akkadia sekitar 2500 SM dan kemudian ke Babilonia pada tahun 2000 SM. Orang Babilonia lah yang pertama kali membuat tanda untuk menandakan bahwa suatu nomor tidak ada didalam kolom, seperti halnya angka 0 dalam angka 1025, dimana itu menandakan bahwa tidak ada ratusan di angka itu. Meskipun leluhur bangsa Babilonia mengenal angka  nol adalah awal yang baik, masih butuh berabad-abad setelahnya sebelum simbol yang kita kenal sekarang muncul.

Ahli matematika terkenal bangsa Yunani kuno mempelajari dasar-dasar matematika mereka dari bangsa Mesir, dan mereka tidak memiliki nama untuk angka nol. Dan sistem bilangan mereka juga tidak menampilkan placeholder seperti halnya orang Babilonia. 

Mereka mungkin telah memikirkannya, tetapi tidak ada bukti konklusif yang mengatakan bahwa simbol itu ada dalam bahasa mereka. Dan orang India-lah yang mulai memahami angka nol baik sebagai simbol maupun sebagai ide.

Adalah Brahmagupta, pada sekitar tahun 650 M, merupakan orang pertama yang meresmikan operasi aritmatika dengan menggunakan angka nol. Dia menggunakan titik di bawah angka untuk menunjukkan nol. Titik-titik ini secara bergantian disebut sebagai "Sunya", yang artinya kosong, atau "Kha", yang artinya tempat. 

Brahmagupta menulis aturan standar untuk mencapai nol melalui penjumlahan dan pengurangan serta hasil operasi dengan nol. Satu-satunya kesalahan dalam aturannya adalah pembagian dengan nol, yang kemudian harus menunggu hingga Sir Isaac Newton dan GW Leibniz menyelesaikannya.

Tapi itu juga belum cukup, karena ternyata masih butuh beberapa abad lagi sebelum nol mencapai daratan Eropa. Pertama, para penjelajah Arab yang hebat membawa teks Brahmagupta dan rekan-rekannya kembali dari India bersama dengan rempah-rempah dan barang-barang eksotis lainnya. 

Zero (Nol) mencapai Baghdad pada tahun 773 M dan kemudian dikembangkan di Timur Tengah oleh seorang ahli matematika bangsa Arab yang akan mendasarkan angka mereka pada sistem India. Pada abad kesembilan, Mohammed Ibn-Musa al-Khowarizmi adalah orang pertama yang mengerjakan persamaan yang menyamai nol, atau yang kemudian dikenal sebagai Aljabar. 

Dia juga mengembangkan metode cepat untuk mengalikan dan membagi angka yang kemudian dikenal sebagai algoritme (sesuai dengan namanya). Al-Khowarizmi menyebut angka nol sebagai "Sifr". Pada tahun 879 M, angka nol ditulis hampir seperti yang kita kenal sekarang, yaitu oval, akan tetapi dalam kasus ini lebih kecil dari angka lainnya. Dan berkat penaklukan Spanyol oleh bangsa Moor, angka nol akhirnya mencapai daratan Eropa pada pertengahan abad ke-12,  melalui terjemahan karya Al-Khowarizmi ini.

Seorang ahli matematika bangsa Italia yang bernama Fibonacci, kemudian membuat karya Al-Khowarizmi dengan algoritme dalam bukunya "Liber Abaci", atau "Buku Abacus," pada tahun 1202 M. 

Hingga saat itu, sempoa telah menjadi alat paling umum untuk melakukan operasi aritmatika. Perkembangan Fibonacci dengan cepat mendapatkan perhatian dari pedagang Italia dan bankir Jerman, terutama dalam penggunaan angka nol. 

Akuntan tahu bahwa pembukuan mereka akan menjadi seimbang ketika jumlah positif dan negatif dari aset dan kewajiban mereka sama dengan nol. Tetapi pemerintah masih mencurigai angka Arab tersebut karena kemudahan untuk mengubah satu simbol menjadi simbol lainnya. 

Meskipun dilarang, para pedagang tersebut terus menggunakan angka nol dalam pesan terenkripsi, dengan demikian diturunkan dari kata sandi, yang berarti kode, dari bahasa Arab "Sifr".

Ahli matematika hebat berikutnya yang menggunakan angka nol adalah Rene Descartes, yang merupakan penemu sistem koordinat cartesius. Seperti yang diketahui oleh siapa pun yang harus membuat grafik segitiga atau parabola, asal Descartes adalah (0,0). 

Siapakah Yang Menemukan Angka Nol? Mengapa Angka Nol Penting?
kalkulus, image via pixabay

Meskipun angka nol sekarang telah menjadi sangat umum digunakan, para pengembang kalkulus, seperti Sir Issac Newton dan Lebiniz, akan membuat langkah terakhir dalam memahami angka nol.

Menjumlahkan, mengurangi, dan mengalikan bilangan dengan nol adalah operasi yang relatif sederhana. Tetapi pembagian dengan nol telah membingungkan bahkan para pemikir hebat sekalipun. Berapa kali nol akan berubah menjadi sepuluh? Atau, berapa banyak apel yang tidak ada menjadi dua buah apel? Jawabannya tidak pasti, akan tetapi bekerja dengan konsep ini merupakan kunci dari operasi kalkulus. 

Misalnya, ketika seseorang berkendara ke toko, kecepatan mobil yang dia kendarai tidak pernah konstan, karena adanya lampu lalu lintas, kemacetan lalu lintas, dan batas kecepatan yang berbeda - beda dan semuanya menyebabkan mobil melaju dengan cepat atau lambat. Tetapi bagaimana seseorang bisa mengetahui kecepatan mobil pada saat tertentu? Di sinilah angka nol dan operasi kalkulus masuk dan berfungsi.

Jika Anda ingin mengetahui kecepatan Anda pada saat tertentu, maka Anda harus mengukur perubahan kecepatan yang terjadi selama periode waktu tertentu. Dengan membuat periode yang ditetapkan semakin kecil dan kecil, Anda dapat memperkirakan kecepatan saat itu juga. 

Akibatnya, saat Anda membuat perubahan waktu mendekati nol, maka rasio perubahan kecepatan terhadap perubahan waktu menjadi serupa dengan beberapa angka di atas nol, dan masalah yang sama itulah yang membuat Brahmagupta merasa kebingungan.

Pada tahun 1600-an, Sir Issac Newton dan Leibniz memecahkan masalah ini secara mandiri dan membuka dunia pada kemungkinan yang luar biasa. Dengan bekerja pada angka saat mendekati nol, kalkulus kemudian lahir. Tanpanya kita tidak akan memiliki fisika, teknik, dan banyak aspek ekonomi dan keuangan.

Pada abad ke-21, angka nol begitu familiar sehingga untuk membicarakannya sepertinya tidak ada apa-apa. Tapi justru memahami dan bekerja dengan tidak ada itulah yang memungkinkan peradaban dunia menjadi maju. Perkembangan angka nol melintasi benua, berabad-abad, dan pikiran telah menjadikannya salah satu pencapaian terbesar manusia. 

Karena matematika adalah bahasa global, dan kalkulus merupakan pencapaian puncaknya, maka angka nol ada dan digunakan di mana-mana. Tapi, seperti fungsinya sebagai simbol dan konsep yang dimaksudkan untuk menunjukkan ketiadaan, angka nol mungkin masih tampak seperti tidak ada sama sekali. Namun, perlu diingat kembali ketakutan atas terjadinya Y2K dan nol sepertinya bukan lagi dongeng yang diceritakan oleh orang - orang idiot dan bodoh.

KESIMPULAN

Ini mungkin tampak seperti bagian yang jelas dari sistem numerik mana pun, tetapi nol adalah perkembangan yang mengejutkan baru-baru ini dalam sejarah peradaban manusia. Nyatanya, simbol "Ketiadaan" yang ada di mana-mana ini bahkan tidak menemukan jalannya ke Eropa hingga akhir abad ke-12. 

Asal-usul Zero (Nol) kemungkinan besar berasal dari "Bulan sabit subur" dari Mesopotamia kuno. Para juru tulis bangsa Sumeria menggunakan spasi untuk menunjukkan ketiadaan di kolom angka sejak 4.000 tahun yang lalu, tetapi penggunaan simbol seperti angka nol pertama kali tercatat sekitar abad ke-3 SM di Babilonia kuno. 

Bangsa Babilonia menggunakan sistem bilangan berdasarkan nilai 60, dan mereka mengembangkan tanda khusus yakni dua irisan kecil, untuk membedakan besaran dengan cara yang sama seperti sistem berbasis desimal modern yang angka angka nol untuk membedakan antara persepuluhan, ratusan, dan perseribu. 

Jenis simbol serupa muncul secara independen di Amerika sekitar tahun 350 M, ketika bangsa Maya mulai menggunakan penanda nol di kalender mereka.

Sistem penghitungan awal ini hanya melihat nol sebagai placeholder dan bukan angka dengan nilai atau properti uniknya sendiri. Pemahaman penuh tentang pentingnya nol tidak akan sampai pada abad ke-7 Masehi di India. 

Di sana, ahli matematika bangsa India yakni Brahmagupta dan para ahli lainnya menggunakan titik kecil di bawah angka untuk menunjukkan placeholder nol, tetapi mereka juga memandang nol sebagai memiliki nilai nol, yang disebut "Sunya" seperti yang sudah saya uraiakan diatas. 

Brahmagupta juga merupakan orang pertama yang menunjukkan bahwa mengurangi angka dari dirinya sendiri akan menghasilkan nol. Dari India, angka nol kemudian memulai perjalannya menuju ke Cina dan kemudian kembali lagi ke Timur Tengah, di mana angka itu diambil oleh seorang ahli matematika bangsa Arab yang bernama Mohammed Ibn-Musa al-Khowarizmi sekitar tahun 773. 

Angka nol terus bermigrasi selama beberapa abad sebelum akhirnya mencapai Eropa sekitar tahun 1100 M. Para ahli seperti matematikawan asal Italia, Fibonacci, membantu memperkenalkan nol pada arus utama, dan kemudian menjadi menonjol dalam karya "Rene Descartes" bersama dengan penemuan kalkulus oleh Sir Isaac Newton dan Gottfried Leibniz. 

Sejak itu, konsep "Nothing" atau ketiadaan terus memainkan peran dalam perkembangan segala hal mulai dari fisika dan ekonomi hingga teknik dan komputasi di zaman modern saat ini.

Itulah uraian artikel tentang Siapakah Yang Menemukan Angka Nol? Mengapa Angka Nol Penting? Semoga bermanfaat dan bisa menambag wawasan Anda.

Referensi:

1. Kaplan, Robert (2000). The Nothing that Is: A Natural History of Zero. New York: Oxford University Press.

2. Seife, Charles (2000). Nol:Biografi

3. Yale Center for the Study of Globalization 2002

Post a Comment for "Siapakah Yang Menemukan Angka Nol? Mengapa Angka Nol Penting?"