Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bencana Tsunami Meninggalkan Rasa Trauma

Bencana Tsunami Meninggalkan Rasa Trauma
credit:instagram@heyderaffan

Bencana tsunami kini menjadi momok yang menakutkan bagi Bangsa Indonesia. Bagaimana tidak? Bencana ini telah menggoreskan trauma pada sebagian bangsa ini. Tsunami disebabkan oleh perpindahan badan air karena perubahan permukaan laut secara vertical dengan tiba-tiba.

Hal tersebut dapat disebabkan karena gempa bumi di bawah laut, letusan gunung berapi atau longsor yang berpusat di bawah laut. Kata tsunami berasal dari bahasa Jepang, yang artinya pelabuhan gelombang.

Jepang sering mengalami tsunami. Sehingga mungkin masyarakat Jepang telah terbiasa mendengar peristiwa tsunami, namun bagi bangsa Indonesia tsunami masih menjadi sesuatu yang menakutkan.

Bencana alam tsunami adalah salah satu bencana alam yang sering terjadi di daerah pesisir karena berhubungan dengan gelombang laut. Istilah tsunami mungkin akan mengingatkan kita pada Jepang, sehingga kebanyakan dari kita pun menganggap kalau bencana alam ini hanya terjadi di Jepang.

Tsunami di Aceh

dampak-tsunami-aceh-2004
credit:instagram@isan90

Di penghujung 2004, tepatnya 26 Desember 2004, Indonesia digemparkan oleh satu peristiwa yang akan membuat siapa pun menjadi tercengang mendengar dan melihat peristiwa bencana alam bernama tsunami. 

Bencana alam tsunami telah meluluhlantakkan kota Aceh dalam waktu sekejap saja. Kota Aceh yang ramai dan penuh dengan bangunan-bangunan kokoh menjadi rata terhempas gelombang Tsunami. 

Bencana alam tsunami yang begitu hebat telah meluluhlantakkan semua. Manusia tak lagi berdaya menghadapi tsunami. Mereka bagaikan buih di lautan yang amat ganas. 

Puluhan ribu nyawa pun menjadi korbannya, terutama di Banda Aceh. Banyak anak-anak yang kemudian menjadi yatim piatu. Banyak orangtua yang pilu kehilangan anak-anaknya. Banyak istri yang harus kehilangan suami atau sebaliknya.

Kita tidak pernah tahu kapan bencana alam tsunami akan datang. Namun setelah apa yang telah terjadi, kita pun menjadi tahu bahwa bencana alam tsunami bisa datang kapan saja dan di mana saja. Siap merenggut siapa saja.

Gelombang air besar yang tiba-tiba berpindah ke daratan itu telah memakan banyak korban. Lebih dari 1000 jiwa pada saat itu meninggal dunia karena tidak dapat melawan kekuatan air yang telah menyeretnya.

Pascasurutnya air tsunami, mayat-mayat "berserakan" di mana-mana. Orang-orang yang selamat sibuk mencari sanak saudaranya. Banyak dari mereka kehilangan anggota keluarganya.

Bukan hanya satu atau dua saja keluarganya yang mereka dapati telah menjadi mayat, beberapa orang mendapati hampir semua anggota keluarganya telah menjadi mayat. Anak, istri/suami, orangtua, dan saudara-saudaranya.

Banyak anak yang kehilangan orangtuanya, mereka kini telah menjadi yatim, piatu, dan yatim piatu. Tak sedikit juga anak yang kehilangan seluruh anggota keluarganya. Ayah, ibu, kakak, adik, dan sanak saudaranya.

Kesedihan menyelimuti mereka para korban tsunami. untuk beberapa lama Aceh bak kota mati, yang tanpa manusia beraktivitas di dalamnya. Sedih dan mencekam melihatnya.

Namun, Tuhan tidak akan memberi cobaan kepada umatnya melebihi batas kemampuannya. Mereka para korban yang masih hidup harus terus berjuang untuk hidupnya. Perlahan mereka bangkit. Mulai menata kembali kehidupan mereka.

Bagi yang kehilangan orangtua, mereka menguatkan diri dengan saling memberi kasih sayang dengan sesama korban lain. Banyak dari mereka yang hijrah sementara dari Aceh dengan menjadi anak angkat di luar kota Aceh.

Selain untuk mendapatkan kasih sayang yang telah hilang, hal terbesar lainnya yang harus ditumbuhkan adalah menghilangkan trauma.

Kini kota Aceh pun telah bangun kembali dari tidurnya. Kota mulai ditata kembali, ciri akan adanya kehidupan yang baru di Aceh. Kota besar dengan mayoritas penganut muslim itu kini telah bangkit kembali.

Apapun bentuknya bencana memang akan selalu meninggalkan trauma, namun bukan berarti kita harus hidup dengan bayang-bayang trauma itu terus menerus. Bagaimana pun kehidupan haris terus berjalan dan kita harus terus memperbaiki hidup kita menjadi semakin lebih baik.

Bencana alam bisa terjadi di mana pun dan kapan pun, bisa menimpa siapa pun juga. Kita manusia hanya bisa berdoa dan tentunya berusaha untuk mengantisipasi. Agar bencana tersebut tidak menimpa kita. Mulai dari diri sendiri dengan menjaga alam dari hal yang kecil yang dapat kita lakukan.

Posting Komentar untuk " Bencana Tsunami Meninggalkan Rasa Trauma"