Belajar Tentang Ekosistem Darat dan Ekosistem Laut

Belajar Tentang Ekosistem Darat dan Ekosistem Laut
credit:freepik.com

Ekosistem Darat Alami

Di negara kita Indonesia, ekosistem tipe ini tercipta dari 3 vegetasi khusus, yakni vegetasi pamah, vegetasi pegunungan, dan vegetasi monsun.

a. Vegetasi Pamah/Daratan Rendah

Vegetasi pamah sebagai vegetasi daratan rendah sisi paling besar rimba yang meliputi teritori paling luas di Indonesia, terdiri dari vegetasi rawa dan vegetasi darat yang berada di ketinggian di antara 0-1000 m di permukaan laut (dpl). 

Vegetasi ini mencakup beberapa jenis sebagai berikut:

1. Hutan Bakau

Rimba (hutan) bakau menyebar nyaris di semua pantai Kepulauan Indonesia. Jumlah tipe rimba bakau seputar 95 tipe tumbuhan, formasi tipe hutan itu bisa berlainan di antara satu dengan yang lain, bergantung dari gabungan beberapa faktor habitat yang memengaruhinya. Penebaran bermacam tipe bakau berada dimulai dari laut menuju dataran membuat lajur berbedabeda.

Lajur Pedada (Soneratia sp), lajur ini selalu tergenang air asin tiap terjadi pasang yang tinggi karena jadi pelopor pengendapan lumpur pada batasan air kering dengan tipe tumbuhan mencakup Soneratia spp dan Avicenia spp.

Lajur Bakau (Rhizophora sp.), sebagai hutan bakau yang mempunyai perakaran ciri khas (akar napas) dengan tipe tumbuhan mencakup Rhizophora sp., Bruguiera spp dan Ceriops spp.

Lajur Tancang (Bruguiera sp.), lajur ini ada terdekat dengan dataran hingga cuman bisa diraih air pasang kering yang mengagumkan tinggi seperti di saat air pasang bulan purnama atau gerhana bulan, dengan tipe tumbuhan mencakup Bruguiera spp, Kondelia spp, Rhizophora spp. dan sebagainya.

Lajur nipah lajur ini ada menuju dataran, di wilayah ini cukup kering.

Pada lautan bakau dilingkari oleh lautan nipah (Nypa fruticans). Hewan-hewan yang ada pada rimba bakau, diantaranya udang-udangan, kerang, ikan glodok, kerang, kepiting, cacing laut, ular, buaya muara, kadal, dan bermacam tipe burung.

2. Hutan Rawa Air Tawar

Hutan rawa air tawar ada dalam teritori yang luas, berada ada di belakang hutan bakau. Bermacam tipe hutan rawa ada di delta, biasanya memiliki beberapa pohon dengan ketinggian yang serupa, seputar 30 m mempunyai kanopi lebat. Ini karena di delta dengan teratur banjir air tawar sebagai karena pergerakan pasang kering.

3. Hutan Pinggir Sungai

Hutan pinggir sungai ada di sejauh pinggir sungai besar yang disebut habitat peralihan dengan rimba rawa air tawar. Vegetasinya terdiri dari tumbuhan rawa angin-anginan yang lain. Susunan tanahnya dalam, subur, dan gembur. 

Sejumlah besar tumbuhannya mempunyai perakaran kuat, berbahan kayu, daunnya menyempit, dan penebaran bijinya lewat air atau ikan. Hutan pinggir sungai sebagai habitat kayu ulin (besi) dan tengkawang, ada di Kalimantan.

Hutan pinggir sungai dapat ditemui di beberapa tebing berbatu yang vegetasinya sejumlah besar berbentuk tumbuhan berbahan kayu dengan perakaran kuat yang hidup antara celah-celah batu, tipe tumbuhannya ialah reofit.

4. Hutan Rawa Gambut

Rimba (hutan) rawa gambut tercipta dari tumpukan gambut yang paling tebal, sekitar di antara 0,5 - 20 m. Permukaan gambut terhampar luas berupa cengkung yang tidak terserang kubangan air hingga memiliki sifat asam dengan pH<4 dan kandungan haranya rendah. 

Hal tersebut mengakibatkan tipe tumbuhannya terbatas, yakni pohon-pohonnya tinggi, kurus, dan tidak lebat. Rimba rawa gambut di Indonesia terdapat banyak di Pulau Kalimantan.

5. Hutan Sagu

Rimba (hutan) sagu berkembang baik di wilayah dengan saluran air tawarnya yang teratur. Di bawah rimba sagu tidak ada tumbuhan lain dan yang lain terdiri dari susunan serasah daun bergambut. Rimba sagu dibagi jadi dua tipe, yakni rimba sagu murni dan rimba sagu kombinasi dengan rimba lain. Habitat ke-2 tipe rimba sagu itu bisa Anda temui di Maluku dan Irian Jaya

b. Vegetasi Pegunungan

Vegetasi pegunungan berada pada ketinggian lebih dari 1000 m di permukaan laut (dpl) dengan vegetasi yang beraeneka macam seperti rimba pegunungan, padang rumput, vegetasi lereng terbuka berbatu, vegetasi alpin dan danau.

1. Vegetasi Rimba Pegunungan

Tipe hutan pegunungan ada dua, yakni sebagai berikut:

Hutan pegunungan bawah, yakni ada di ketinggian sekitar 1000- 1500 m dpl. Makin ke atas vegetasinya makin rendah, bila tumbuh makin tinggi karena itu diameternya makin kecil. Vegetasi pada punggung dan lereng gunung biasanya berbentuk pohon pendek atau semaksemak. Vegetasinya mencakup tanaman anggrek, paku-pakuan, dan lumut.

Hutan pegunungan atas, ada di ketinggian sekitar 1500-3300 m dpl. Hutannya lebat dengan ketinggian pohonnya capai 25 m, macam vegetasinya semakin sedikit dibanding dengan rimba pegunungan di bawahnya.

2. Vegetasi Padang Rumput

Padang rumput berada di ketinggian sekitar di antara 2500-4100 m dpl yang ada dalam Pegunungan Irian Jaya dan Kamabu. Tipe vegetasinya mencakup padang rumput dengan paku pohon, padang rumput semak pinggir rimba, padang rumput merumpun, vegetasi lumut kerak, dan rimba sub alpin. 

Adapun vegetasi rawa subalpin kecuali ada dalam Irian Jaya dan Kamabu ada dalam Jawa seperti pada Gunung Dieng, Gunung Gede, dan Gunung Patuha.

3. Vegetasi Danau

Danau biasanya ada dalam pegunungan dengan ketinggian lebih dari 1500 m dpl. Vegetasi danau memiliki wilayah yang kaya mineral hasil perairan mencakup wilayah perairan terbuka sampai perairan tertutup. Tumbuhan danau ada dalam Gunung Dieng.

c. Vegetasi Monsun

Vegetasi monsun ada dalam wilayah beriklim kering angin-anginan dengan kelembapan udara lebih dari 33% dan curahan hujan seputar 1500 mm/th. 

Tipe vegetasinya seperti di bawah ini:

1. Padang Rumput

Padang rumput ini tempati teritori yang paling luas dan umumnya bersinambungan dengan savana. Vegetasinya terdiri dari komune kombinasi bermacam rumput, terna, dan perdu.

2. Savana

Savana terdiri dari padang rumput dengan pohon terpencar jarang-jarang sampai lebat. Savana ada di Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, dan Irian Jaya.

3. Rimba Monsun

Rimba monsun ada di ketinggian sekitar 0-800 m dpl, vegetasinya terdiri dari beberapa pohon setinggi seputar 25 m dan mempunyai tangkai yang kurus dan bercabang rendah. Ada di jawa Timur, NTT, Sulawesi Selatan dan Tenggara.

Ekosistem Bahari/ Laut

Ekosistem bahari/laut terdiri dari ekosistem perairan dalam, ekosistem pantai pasir dangkal/bitarol, dan ekosistem pasang kering.

a. Ekosistem Perairan Dalam

Komune ekosistem perairan dalam di Indonesia sedikit dijumpai dengan cara tepat. Ini karena belum terkuasainya piranti tehnologi untuk mempelajari sampai capai perairan dalam, tapi pada umumnya keberagaman komune kehidupan yang ada di perairan dalam itu tidak setinggi ekosistem pada tempat lain. 

Komune yang ada cuman customer dan pemecah, tidak ada produsen karena pada wilayah ini sinar matahari tidak bisa tembus. Makanan customer berawal dari plankton yang mengendap dan vector yang sudah mati. Maka dalam laut ini terjadi kejadian makan dan dikonsumsi. Mengapa begitu? Coba Anda pikir!

Bila dilihat hewan-hewan yang hidup di perairan dalam berwarna gelap dan memiliki mata yang sensitif dan keluarkan sinar. Daur mineralnya muncul karena pergerakan air dalam pantai ke tengah laut pada lapis atas. 

Peralihan air ini diganti oleh air dari wilayah yang terserang sinar, hingga terjadi peralihan air dari lapis bawah ke atas.

b. Ekosistem Pantai Pasir Dangkal

Komune ekosistem pantai pasir dangkal berada di sejauh pantai di saat air pasang. Luas daerahnya meliputi pesisir terbuka yang tidak dipengaruhi sungai besar atau berada antara dinding batu yang curam/ terjal. Komune didalamnya biasanya dikuasai oleh bermacam tipe tumbuhan ganggang dan atau rumput-rumputan. 

Tipe ekosistem pantai pasir dangkal ada tiga, yakni sebagai berikut:

1. Ekosistem Terumbu Karang

Ekosistem ini bisa kita temui di perairan jernih. Terumbu karang tercipta sebagai dari hasil aktivitas bermacam hewan laut seperti kerang, siput, cacing, Coelenterata dan alga kapur (Halimeda). 

Persyaratan hidup binatang kerang, yakni airnya jernih, arus gelombang kecil, dan lautnya dangkal. Ekosistem ini bisa kita dapatkan di pantai samping barat Sumatra, pantai selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan pantai utara Sulawesi dan Maluku.

2. Ekosistem Pantai Batu

Tipe ekosistem ini tercipta dari bongkahan-bongkahan batu granit yang besar atau berbentuk bebatuan padas yang tercipta proses dari konglomerasi (bergabung dan menyatunya) di antara batu-batuan kecil atau kerikil dengan tanah liat dan kapur. 

Ekosistem itu umumnya dikuasai vegetasi tipe Sargassum atau Eucheuma. Di mana ekosistem pantai batu itu bisa kita temui? Ekosistem ini bisa kita temui di daerah pesisir berbukit yang berdinding batu dimulai dari sejauh pantai barat Sumatra, pantai selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sampai pantai selatan Maluku.

3. Ekosistem Pantai Lumpur

Ekosistem pantai lumpur tercipta dari tatap muka di antara pengendapan lumpur sungai dengan laut yang ada dalam muara sungai dan sekelilingnya. Jika sungainya besar, lumpur itu menghampar luas sampai menjuru ke laut. 

Di mana bisa kita temui ekosistem pantai lumpur ini? Ekosistem pantai lumpur ada di muara yang dikatakan sebagai monsun estuaria. Habitatnya bermacam tipe biota ikan gelodok. Komune tumbuhannya ialah Tricemia, Skeratia, dan rumput laut/Enhalus acoroides. 

Binatang-binatang ini mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Umumnya ekosistem pantai lumpur bisa kita temui di beberapa pantai pada pulau lumayan besar yang mempunyai sungai - sungai lebar seperti pada Pulau Kalimantan, Irian Jaya, Sumatra, dan Jawa.

0 Response to "Belajar Tentang Ekosistem Darat dan Ekosistem Laut"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel